Icons MM Consulting
Loading ...
M

Our Contacts

+62 852 8614 1292

info@mmconsulting.id

Jl. KH. Noer Ali No.1J, RT.RW/RW.005/002, Jakasampurna, Kec. Bekasi Barat, Kota Bekasi, Jawa Barat 17145

Copyright © 2026 PT Mitra Mepping Consulting. All Rights Reserved

457 Kebakaran Terjadi di Jakarta dalam Dua Bulan, Ahli Dorong Penguatan Sistem Proteksi

Tayang: Rabu, 16 September 2026 17:00 WIB

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Sebanyak 457 kejadian kebakaran tercatat di Jakarta sepanjang Juli-Agustus 2026. Jika dirata-ratakan, lebih dari tujuh kebakaran terjadi setiap hari dalam dua bulan tersebut.

Angka itu bukan sekadar catatan tentang berapa kali petugas pemadam harus dikerahkan.

Di balik setiap kejadian, ada rumah, tempat usaha, fasilitas publik hingga aktivitas warga yang berpotensi terganggu. Karena itu, persoalan kebakaran tidak cukup diselesaikan ketika api sudah membesar, tetapi perlu ditekan sejak risiko mulai muncul.Gambaran dampaknya terlihat dalam kebakaran di Jelambar, Jakarta Barat, Senin (14/9/2026).

Sebanyak 10 rumah di RT 11/RW 08, Kelurahan Jelambar, Kecamatan Grogol Petamburan, terbakar dan berdampak terhadap 40 kepala keluarga (KK).

Sebanyak 17 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan api. Setelah kebakaran dipadamkan, perhatian kemudian beralih pada penanganan warga yang terdampak melalui bantuan dari Pemerintah Kota Jakarta Barat.

Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta menunjukkan, 217 kebakaran terjadi pada Juli dan jumlahnya meningkat menjadi 240 kejadian pada Agustus.

Dari total tersebut, 169 kejadian diduga berkaitan dengan listrik, sedangkan 122 kejadian melibatkan sampah sebagai objek yang terbakar. Pembakaran sampah, kelalaian, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan juga menjadi faktor yang dapat memicu kebakaran.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian risiko kebakaran sebenarnya dapat dikenali sebelum berkembang menjadi kobaran api.

Pakar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bidang pencegahan dan penanggulangan kebakaran, Nur Julismen, mengatakan penanganan kebakaran perlu dibangun sebagai sistem, mulai dari mengenali potensi bahaya, mendeteksi api sedini mungkin hingga memastikan penghuni atau pekerja dapat melakukan evakuasi dengan aman.

“Kebakaran seharusnya tidak menunggu terjadi baru kita memikirkan cara mengatasinya. Yang paling penting adalah bagaimana potensi kebakaran dapat diketahui sejak awal, kemudian sistem proteksinya dipersiapkan dan dipastikan berfungsi saat dibutuhkan,” ujar Nur Julismen, Rabu (16/9/2026).

Menurut pria yang akrab disapa Joe itu, langkah pencegahan dapat dimulai dari hal mendasar, seperti memastikan APAR tersedia dan mudah dijangkau, serta memastikan sistem alarm, smoke detector, sprinkler, hydrant dan fire pump berfungsi.

Instalasi listrik juga perlu mendapat perhatian karena menjadi salah satu faktor yang banyak dikaitkan dengan kejadian kebakaran.

“Panel, kabel, sambungan dan beban listrik harus diperiksa secara berkala untuk mencegah panas berlebih yang dapat memicu kebakaran,” katanya.

Selain perangkat proteksi, kesiapan manusia juga menentukan. Penghuni dan pekerja perlu mengetahui jalur evakuasi, memahami prosedur keadaan darurat, serta mendapat pelatihan agar dapat merespons kebakaran pada menit-menit awal.

“Semakin cepat kebakaran terdeteksi dan ditangani pada tahap awal, semakin besar peluang untuk mencegah api berkembang menjadi kejadian besar,” katanya.

Dengan demikian, proteksi kebakaran tidak berhenti pada keberadaan alat pemadam.

"Sistem tersebut harus dirancang, diuji dan dipelihara agar benar-benar bekerja ketika dibutuhkan," katanya.

Bagaimana Mengantisipasi Kebakaran?

Menurut Joe, ada beberapa langkah dasar yang dapat diterapkan oleh pemilik maupun pengelola bangunan:

  1. Identifikasi sumber bahaya kebakaran seperti instalasi listrik, bahan mudah terbakar, pekerjaan panas (hot work), dapur, mesin produksi dan area penyimpanan.
  2. Sediakan sistem deteksi dini sehingga kebakaran dapat diketahui sebelum berkembang menjadi lebih besar.
  3. Pastikan APAR tersedia dan sesuai kelas kebakaran, mudah dijangkau, tidak terhalang serta dilakukan pemeriksaan secara berkala.
  4. Pastikan sistem hydrant dan sprinkler siap beroperasi. Fire pump, jockey pump, hydrant pillar, hydrant box, valve dan jaringan perpipaan perlu diperiksa serta diuji secara berkala.
  5. Lakukan testing dan commissioning.  Sistem proteksi kebakaran tidak cukup hanya terpasang secara fisik. Seluruh sistem harus diuji untuk memastikan dapat bekerja sesuai desain.
  6. Siapkan jalur dan prosedur evakuasi. Emergency exit, titik kumpul, alarm, emergency lighting dan signage harus jelas serta tidak terhalang.
  7. Lakukan pelatihan dan simulasi kebakaran. Karyawan perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mendengar alarm, bagaimana menggunakan APAR dan kapan harus melakukan evakuasi.

Upaya pencegahan pada akhirnya bukan hanya untuk mengurangi kerugian materi, tetapi juga melindungi nyawa dan menjaga agar aktivitas masyarakat maupun operasional usaha tidak terhenti akibat kebakaran.

Sumber Liputan : 457 Kebakaran Terjadi di Jakarta dalam Dua Bulan, Ahli Dorong Penguatan Sistem Proteksi

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *